Kamis, 20 Januari 2011

Sejarah Latar Belakang Munculnya Filsafat Islam


a.      Al-Kindi: Aspek Persamaan Filsafat dengan Agama
Al-kindi mempertemukan agama dengan filsafat, atas dasar pertimbangan bahwa filsafat adalah ilmu tentang kebenaran dan agama juga adalah tentang kebenaran pula, dan oleh karena itu maka tidak ada perbedaan antara keduanya. Pengaruh golongan mu'tazilah nampak jelas pada jalan pemikirannya, ketika ia menetapkan kesanggupan akal manusia untuk mengetahuai rahasia-rahasia apa yang dibawah oleh Rasullullah Nabi Muhammad Saw. Ilmu filsafat yang meliputi ketuhanan, keesaan, keutamaan, dan ilmu-ilmu lain yang mengajarklan bagaimana cara memperoleh hal-hal yang berguina dan menjauhkan hal-hal yang merugikan, dibawa juga oleh Rasul-rasul dari Tuhan.
Menurut Al Kindi, kita tidak boleh malu untuk mengakui kebenaran dan mengambilnya, dari mana pun datangnya, meskipun dari bangsa-bangsa lain yang jauh letaknya dari kita. Tidak ada yang lebuh utama bagi orang yang mencari kebenaran dari kebenaran itu sendiri. Orang yamg mengingkari filsafat, berarti mengingkari kebenaran, dan oleh karenanya makas ia akan menjadi kafir. Bahkan lawan-lawan filsafat memerlukan sekali kepaa filsafat untuk memperkuat alasan-alasan tentang tidak perlunya filsafat.
Mememang kadang-kadang terdapat perlawanan dalam lahirnya antara hasil-hasil pemikiran filsafat dengan ayat-ayat Qur'an, hal mana yang menyebabkan ada orang yang menentang filsafat. Pemecahan Al Kindi terhadap soal ini ialah bahwa dalam kata-kata dalam bahasa arab bisa mempunyai arti yang sebenarnya (halikat) an arti majasi (arti kqiasan, atau bukan arti yang sebenarnya).arti majasi ini hanya dikatakan dengan jalan takwil (penafsiran), dengan syarat harus dilakukan orang-orang ahli agama dan ahli pikir.
Sesuai dengan pendiriannya, bahwa filsafat harus dimiliki oleh seorang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah, maka ia sendiri berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencarinya, dengan cara mengikuti pendapat-pendapat orang-orang sebelumnya dan menguraikan sebaik-baiknya.[1]
Al-Kindi mengemukakan tiga jalan untuk membuktikan adanya Tuhan, yaitu:
1. Tidak mungkin ada benda yang ada dengan sendirinya, jadi wajib ada yang menciptakannya dari ketiadaan dan pencipta itulah Tuhan.
2. Dalam alam tidak mungkin ada keragaman tanpa keseragaman atau keseragaman tanpa keragaman. Tergabungnya keragaman dan keseragaman bersama-sama, bukanlah karena kebetulan, tetapi karena sesuatu sebab. Sebab pertama itulah Tuhan.
3. Kerapian alam tak mungkin terjadi tanpa ada yang merapikan (mengaturkan)nya. Yang merapikan atau yang mengaturkan alam nyata itulah tuhan.[2]
b.      Al-Farabi: Teori Emanasi
Teori emanasi adalah teori pancaran tentang urutan-urutan wajud atau teori tentang keluarnya sesuatu wujud yang mumkin (alam dan makhluk) dari Zat yang wajibul wujud (Tuhan). Al Farabi berpendapat bahwa segala sesuatu itu keluar/berasal dari Tuhan, karena Tuhan mengetahui zat-Nya dan mengetahui bahwa ia menjadi dasar susunan wujud yang sebaik-baiknya.
Tuhan berpikir tentang dirinya dan dari pemikiran ini timbul maujud lain. Karena pemikiran tuhan tentang diri-Nya merupakan daya yang dahsyat, maka daya itu dapat menciptakan sesuatu. Tuhan meupakan wujud yang pertama. Karena Tuhan berpikir tentang diri-Nya sendiri yang Esa, maka timbullah maujud kedua yang disebut akal pertama yang tidak bersifat materi. Selanjutnya, akal pertama berpikir tentang Tuhan sehingga timbul akal kedua. Akal pertama juga berpikir tentang diri-Nya sehingga terciptalah langit. Akal kedua berpikir tentang Tuhan, timbul akal ketiga, dan berpikir tentang dirinya, maka terciptalah bintang-bintang. Begitu seterusnya hingga sampai pada akal kesepuluh. Secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut. Demikian gambaran alam dalam astronomi yang diketahui pada zaman Al Farabi. Pemikiran akal kesepuluh tentang Tuhan tidak cukup kuat untuk menghasilkan akal, juga karena tidak ada lagi planet yang yang akan diurusnya. Masing-masing akal mengurus planetnya dan akal kesepuluh ini terkadang disebut juga Jibril.
Allah Ta’ala (wujud 1)
berpikir tentang diri-Nya
Akal 1
Akal 1 (wujud 2)
berpikir tentang Tuhan
Akal 2

berpikir tentang diri-Nya
Langit
Akal 2 (wujud 3)
berpikir tentang Tuhan
Akal 3

berpikir tentang diri-Nya
Bintang-bintang
Akal 3 (wujud 4)
berpikir tentang Tuhan
Akal 4

berpikir tentang diri-Nya
Saturnus
Akal 4 (wujud 5)
berpikir tentang Tuhan
Akal 5

berpikir tentang diri-Nya
Yupiter
Akal 5 (wujud 6)
berpikir tentang Tuhan
Akal 6

berpikir tentang diri-Nya
Mars
Akal 6 (wujud 7)
berpikir tentang Tuhan
Akal 7

berpikir tentang diri-Nya
Matahari
Akal 7 (wujud 8 )
berpikir tentang Tuhan
Akal 8

berpikir tentang diri-Nya
Venus
Akal 8 (wujud 9)
berpikir tentang Tuhan
Akal 9

berpikir tentang diri-Nya
Merkurius
Akal 9 (wujud 10)
berpikir tentang Tuhan
Akal 10

berpikir tentang diri-Nya
Bulan
Akal 10 (wujud 11)
berpikir tentang Tuhan
Tidak menghasilkan akal lain

berpikir tentang diri-Nya
Bumi, api, air, udara dan tanah[3]




c.       Ibnu Sina: Filsafat jiwa
Ibnu Sina membagi jiwa dalam tiga bagian :
1)      Jiwa tumbuhan yang memiliki daya : makan, tubuh dan berkembang biak.
2)      Jiwa binatang yang memiliki daya: gerak, menangkap dengan panca indra dan indra dalam.
3)      Jiwa manusia yang memiliki daya: praktis, yang berhubungan dengan badan dan yang teoritis yang berhubungan dengan hal-hal yang abstrak. Dan daya teoritis ini memiliki beberapa tingkatan:
  • Akal materil yaitu yang memiliki potensi berfikir dan belum dilatih sedikitpun.
  • Akal dalam pembiasan yaitu yang telah  mulai dilatih bberfikir yang abstrak.
  • Akal aktual yaitu yang telah berfikir tentang hal-hal abstrak
  • Akal mustafad yaitu akal yang telah sanggup berfikir tentang hal-hal abstrak tanpa ada daya upaya.
Seseorang bergantung kepada jiwanya. Ia akan bersifat dengan jiwa tumbuhan, binatang atau berjiwa manusia.. Jika jiwa binatang dan tumbuh-tumbuhan yang berkuasa pada dirinya, maka orang itu dapat menyerupai binatang. Jika jiwa manusia yang berkuasa pada dirinya, maka orang itu dekat menyerupai malaikat dan dekat kesempurnaan.[4]
d.      Al-Ghazali: Kritik dan serangan trhadap kaum filosof
Al Ghazali mempelajari terhadap segala pengetahuan, sebagai sarana untuk meraih petunjuk dan juga sebagai upaya untuk mencari suatu kebenaran. Beliau mempelajari fiqh cukup lama. Namun, justru dia tidak menemukan kepuasan. Dia tidak puas oleh perdebatan-perdebatan etimologik maupun tekstualitas yang kaku.    Al Ghazali tidak merasakan bahwa kalbu para ahli fiqh tergetar terhadap apa yang mereka tulis.Kemudian Al Ghazali mendalami ilmu kalam, dengan harapan sampai kepada Allah. Sebagai diketahui dalam ilmu kalam terdapat beberapa aliran yang saling bertentangan. Timbul pertanyaan dalam dirinya aliran manakah yang betul-betul benar di antara semua aliran itu ? menurutnya, kebenaran haqiqi adalah pengetahuan yang diyakini betul kebenarannya. Tak terdapat sedikitpun keraguan di dalamnya. Dia berkata: “jika kuketahui bahwa sepuluh adalah lebih banyak dari tida dan ada yang mengatakan sebaliknya dengan bukti tongkat bisa diubah menjadi ular dan itu memang terjadi dan kusaksikan sendiri; hal itu tidak akan membuat aku ragu akan pengetahuanku. Aku hanya merasa kagum terhadap kemampuan orang itu, tanpa aku ragu  terhadap pengetahuanku”.
Al Ghazali juga mengkaji filsafat, kelihatannya hal itu untuk menyelediki apakah pendapat-pendapat yang diajukan filosof-filosof itu merupakan kebenaran. Baginya, ternyata bahwa argumen-argumen yang mereka ajukan tidak kuat dan menurut keyakinannya ada yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Beliau mendiskusikan dan membatalkan pemikiran-pemikiran filosof serta menjelaskan kelemahan-kelemahannya.
Al-Ghazali memulai kitabnya dengan mengarahkan kritik tajam terhadap Aristoteles, guru pertama dan pemuka para filosof. Tetapi bukan Aristoteles satu-satunya yang menjadi sasaran kritiknya. Dia juga menyerang kebanyakan orang Yunani yang tidak memeluk agama samawi, dan karena itu, umat Islam menganggap mereka kafir, dan orang yang mengikuti pemikiran mereka, juga akan menjadi kafir. Karena Al Ghazali telah bertekad  memerangi kekufuran, maka salah satu sebab kekufuran yang dilihatnya ialah dari mulai adanya pengagungan oleh kalangan umat Islam terhadap pemikiran-pemikiran Socrates, Plato, Aristoteles dan sebagainya.
Sebab haqiqi yang mendorongnya menyerang Aristoteles adalah perkataannya: bahwa alam ini qadim (tidak bermula). Dan ini adalah masalah pertama dalam “Tahafut al Falasifah”. Oleh karena para filosof islam, atau seperti yang disebut oleh Al Ghazali “para pemilsafat dalam Islam” (almutafalsifah fi al islam), telah mengangkat filsafat Aristoteles, sehingga Al Farabi digelar orang “guru kedua”, dan kemudian Ibnu Sina menempuh jalan serupa, dan dengan usaha dan kerja keduanya filsafat islam menjadi lebih sempurna, maka tidaklah heran jika serangan Al-Ghazali terpusat pada dua tokoh (Aristoteles dan Ibnu Sina) tersebut.[5]
e.      Ibnu Bajah: Teori Ittishal
Sebagai tokoh pemula Filsafat islam di Dunia Barat, Ibnu Bajjah tidak lepas dari pengaruh saudara-saudarnya, filsuf di Dunia Islam Timur, terutama pemikiran Al-Farabi dan Ibnu Sina . dalam bukunya yang terkenal Tadbir al-Mutawahhid, Ibnu Bajjah mengemukakan Theori al-Ittishal, yaitu bahwa manusia mampu meleburkan diri dengan Akal Fa’al atas bantuan ilmu dan dan pertumbuhan kekuatan insaniyah. Segala keutamaan budi pekerti mendorong kesanggupan jiwa yang berakal sanggup menguasai nafsu hewani. Dengan kata lain manusia harus bersungguh-sungguh untuk berhubungan dengan alam yang tingi, bersama masyarakat atau menyendiri dari masyarakat.
Berkaitan dengan teori ittishal inilah, Ibnu Bajjah juga mengajukan satu bentuk epistimologi yang berbeda dengan corak yang dekemukakan oleh Al-Ghazali di Dunia Islam Timur. Kalau Al-Ghzali berpendapat bahwa Ilham (nur-kunci ma’rifah) adalah sumber pengetahuan yang lebih penting dan lebih dipercaya, maka Ibnu Bajjah mengkritik pendapat tersebut, dan menetapkan bahwa sesungguhnya seseorang mampu sampai kepada puncak pengetahuan dan melebur ke dalam Akal Fa’al, bila ia telah bersih dari kerendahan dan keburukan masyarakat. Kemampuan menyendiri dan mempergunakan kekuatan akalnya akan dapat memperoleh pengetahuan dan kecerdasan yang lebih besar. lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa pengetahuan yang didapatkan oleh akal, akan membangun kepribadian seseorang. Untuk itu ada empat sebab, bentuk, materi, agen, dan tujuan, yang harus diketahui oleh manusia unutk mengetahui objek-objek pengetahuan, sehingga mencapai keimanan kepada Tuhan, malaikat-malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan akhirat.[6]
f.        Ibnu Thufail: Hayy bin Yaqzhan (Akal dan Wahyu)
Ibnu Thufail berpendapat bahwa akal dapat membimbing manusia dari alam kegelapan setingkat demi setingkat menuju cahaya kebenaran secara hakiki. Pemikiran ibnu thufail ini sejalan dengan filosof pada umumnya termasuk ibnu bajjah. Akan tetapi ibnu thufial tidak sejalan denga al-ghazali yang memandang tasawuf dapat munntun manusia untuk mencapai kebenaran yang hakiki.[7]
Hayy ibn Yaqzan dikenal sebagai novel falsafah, alegori falsafah, atau alegori sufi bercorak falsafah, yang ditulis dalam bentuk science fiction. Dalam novel ini beliau mengungkapkan pandangan falsafahnya tentang alam semesta, epistemologi (falsafah ilmu pengetahuan tentang Tuhan, agama, moral, manusia dan watak-wataknya, dalam bentuk bahasa sastera yang bermutu tinggi dan cemerlang.
Judul buku ini diambil dari karya Ibn Sina. Walaupun demikian tema, cara dan persoalan yang dibahaskan penulisnya berbeda dengan karya Ibn Sina. Novel ini lebih jauh memberi penafsiran terhadap karya Ibn Sina sendiri Asrar al-Hikmah al-Masyriqiyah (Rahsia Falsafah Ketimuran).
Melalui karyanya itu Ibn Tufayl telah memberikan sumbangan besar terhadap pemikiran sastra dan falsafah baik di Timur maupun di Barat. Beberapa aspek yang membuat hikayat ini memiliki kedudukan istimewa ialah:
1. Hayy bin Yaqzan merupakan science fiction pertama yang muncul dalam sejarah sastra dunia. Malahan boleh dikatakan sebagai science fiction yang murni.
2. Melalui karyanya ini Ibn Tufayl berikhtiar mendamaikan agama dan falsafah, dua disiplin yang sering dipertentangkan oleh para sarjana sehingga kini. Karena itu karya ini dapat disebut juga sebagai alegori falsafah bercorak kesufian atau alegori sufi bercorak falsafah. Kandungannya ialah bagaimana manusia memperoleh ilmu pengetahuan dengan menggunakan baik metode falsafah mahupun metode sufi.
3.Dalam novel ini penulisnya berikhtiar mempertemukan aliran pemikiran yang sering dipertentangkan, yaitu pemikiran falsafah dan pemikiran sufi. Dua aliran utama itu menggunakan metode berbeda dalam mencapai kebanaran, tetapi ternyata keduanya dapat dipertemukan kembali.
4. Karya ini bukan saja mempengaruhi perkembangan sastra Arab dan pemiikiran falsafah Islam, tetapi juga secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi banyak sastrawan dunia. Di antara karya penulis dunia yang dipengaruhi karya Ibn Tufayl ialah El Critican (Si Pengeritik) karya penulis Spanyol abad ke-17 bernama Baltazar Gracian. Karya lain yang dipengaruhi karangan Ibn Tufayl ialah Robinson Cruso karya Daniel Defoe (1661-1731 M), Gullivers Travels karya Jonathan Swift (1667-1745 M) dan Jungles Books karya Rudyard Kipling (1856-1936 M).[8]
    g. Ibnu Rusyd: Pembela Kaum Filosof dari Serangan Al-Ghazali
Dimasa hidupnya, Al-Ghazali mendalami ilmu filsafat dan telah menulis buku sebagai kesimpulan tentang kajiannya terhadap ajaran ilmu filsafat, yang terkenal adalah bukunya tahafuth al-falasifah. Buku tersebut memang ditujukan untuk membongkar dan serangan terhadap paham filsafat dan membuktikan kekeliruan padanya dari ajaran agama, khususnya filsafat Al-Farabi dan Ibnu Sina. Dalam kesimpulannya, al-Ghazali menetapkan 20 soal sebagai bathil dan pada akhir bukunya tiga soal diantaranya adalah kafir, sehingga dari sini ia mengkafirkan para filsuf. Tiga soal tersebut adalah:
1. Pendapat filsuf bahwa alam itu azali atau qadim (eternal in the past)
2. Pendapat filsuf bahwa Tuhan tidak mengetahui juz’iyat (hal-hal yang juz’i/ individual/ partikular).
3. Paham filsuf yang mengingkari adanya kebangkitan tubuh di hari akhirat.
Menurut Aziz Dahlan, itu berarti bahwa siapa saja yang menganut salah satu dari tiga paham tersebut, menurut Al-Ghazali, jatuh ke dalam kekafiran. Polarisasi dan kesimpulan ini mampu mempengaruhi pemahaman umat sehingga menjadi sanggahan dan serangan tajam terhadap filsafat dan filsuf. Hal demikian berimplikasi pada sikap negatif dan penolakan umat pada ilmu ini yang akhirnya menutup pintu kajian terhadap ilmu-ilmu fisafat di dunia Islam.
Tetapi, tentu tidak mudah bagi orang memahami dialog-dialog dan bantahan-bantangan yang di tulis Al-Ghazali dalam rangka memaparkan peliknya argumen dan materi kajian para filsuf, menurut yang dipahaminya dan argumen-argumen untuk menjatuhkan argumen para filsuf. Itu saja sudah cukup bukti kehujjahan dan pengaruh keilmuan Al-Ghazali pada pemahaman keagamaan umat saat itu. Begitu pula pelik dan resikonya memberi bantahan dan sanggahan terhadap serangan Al-Ghazali tersebut, seperti dilakukan Ibnu Rusyd.
Dalam pada itu, Ibnu Rusyd melakukan tiga upaya sekaligus yaitu membela para filsuf yang dikafirkan Al-Ghazali, melakukan klarifikasi paham filsafat dan menyanggah paham Al-Ghazali. Pembelaan terhadap para filsuf dilakukan dengan merumuskan harmonisasi agama dan filsafat, klarifikasi paham filsafat dilakukan dengan menguraikan maksud filsafat yang sebenarnya tentang soal-soal yang dikafirkan dan sanggahan terhadap Al-Ghazali dengan mengelaborasi “kesalahan” persepsinya. Semua itu dilakukan Ibnu Rusyd dengan berpikir rasional dan menafsirkan agama pun secara rasional, namun ia tetap berpegang pada sumber agama itu sendiri, yaitu al-Quran.[9]


[1] http://yunisiklil.blogspot.com/2010/11/pemanduan-agama-dengan-filsafat.htm
[2] Drs. Sudarsono, S.H, Filsafat Islam, Rineka Cipta, hal.24
[3] http://miftah19.wordpress.com/2010/02/09/al-farabi-emanasi-tuhan-dan-akal-mustafad-3/
[4] http://daikembar.com/filsafat-ibnu-sina
[5] http://blogpunyanovi.blogspot.com/2010/07/al-ghazali-kritik-terhadap-filosof.html
[6] http://kallolougi.blogspot.com/2010/07/ibnu-bajjah.html
[7] Drs. Sudarsono, S.H, opcit, h.85-86
[8] http://ahmadsamantho.wordpress.com/2009/12/06/pertemuan-jalan-filosofi-dan-sufi-pada-karya-ibn-thufail-hayy-ibn-yaqzan-2/
[9] http://3kh4.wordpress.com/2008/05/06/ibnu-rusyd-kritik-terhadap-al-ghazali-averroisme-dan-pengaruhnya-di-eropa/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar